Wednesday, August 09, 2006

Ke Singapura Aku Datang

Jam menunjukkan pukul 9.30 malam waktu Malaysia pada tanggal 5 Agustus 2006 di hari Jumat itu. Aku bergegas keluar dari kamarku untuk berangkat makan malam ke kantin di kampus USM-Penang, Malaysia. Sembari makan aku kirim sms ke Fathur untuk mengingatkannya kalau kami akan berangkat pukul 10.15 mlm. Belum habis nasi di piring, aku telepon taksi (biar efiesien waktu gitu loh) dan sekitar pukul 10.00 mlm aku sudah berangkat menuju terminal bus (kalau di Malaysia disebut stesen bas). Saat aku tiba di terminal, aku belum melihat Fathur, belum datang nampaknya dia. Sekitar 10 menit menunggu, Fathur baru muncul. Ternyata bus yg kami tumpangi belum datang juga, baru sekitar 10.30 mlm bus datang, dan penumpang pun diminta untuk naik ke dalam bus (konsortium bas ekpress namanya). Bus tersebut berwarna merah tua dengan kondisi bangku 2-1 (kalau di Indonesia bus spt ini udah masuk dalam tipe eksekutif). Sampai akhirnya berangkat, bangku dalam bus tidak sepenuhnya terisi, kemungkinan karena bukan masa liburan sekolah.


Seperti biasa aku susah untuk memejamkan mata kalau dalam suatu perjalanan panjang. Pikiranku pasti melayang-layang dan sulit untuk diajak kompromi untuk istirahat. Aku melihat Fathur malah sudah mendengkur, ampe mulut pun terbuka. Untung aku orangnya gak suka iseng, kalau gak kan bisa diabadikan. He…he…. Syukurlah setelah bus melewati Kuala Lumpur (pukul 2 pagi), aku boleh tertidur. Namun sayang, sampai di Malaka bus berhenti untuk beristirahat (sekitar jam 4 pagi waktu itu). Aku pun kembali terbangun dan segera ke kamar kecil. Tiba di Negara bagian Johor, kira2 jam 6.00 pagi dan Fathur nampaknya sudah bangun.

Asyiknya perjalanan di Malaysia ini, perjalanan dari utara (Negara bagian Perlis) ke selatan (Johor Bahru) bisa dilalui sepenuhnya melalui jalan tol (lebuh raya istilahnya dalam Bhs Melayu). Sehingga sangat nyaman tentunya. Perjalanan dari Penang ke Singapura setelah melewati kota Johor Bahru (ujung Malaysia di selatan yg terhubung dgn Singapura) memakan waktu kira-kira 10 jam. Saat kami melewati jembatan penghubung kedua Negara itu, aku sempat mengambil gambar menggunakan kamera digital yg aku bawa. Jembatannya tidak panjang kok dan tidak sekeren jembatan Pulau Pinang. Aku melihat, banyak orang dari kedua warga Negara (Malaysia dan Singapura) berjalan kaki di sepanjang jembatan tersebut. Kira-kira 2 km panjangnya kalau aku menduganya.


Seperti biasa, perjalanan masuk ke sebuah negara selalu lebih jelimet ketimbang keluar dari suatu negara. Saat berurusan di imigrasi Singapura, Woodland Checkpoint, aku dan Fathur harus masuk dulu ke kantornya, sedikit interview dan nanya bakal nginap di mana...akhirnya kami pun dilepas (kambing kale dilepas...:). Tadinya sih udah mikir parno aja, bakal nginap di kantor imigrasinya, apalagi kalau melihat perawakan Fathur yg mirip dengan Amrozi. He..he… Sangking tegangnya aku, lupa deh ngambil gambar kantor imigrasi Singapura itu, padahal keren habis loh kantornya, kayak bandara malah. Sebagai informasi, banyak warga Malaysia yg tinggal di Johor Bahru, yang bekerja di Singapura. Malah ada yg sekolah di Singapura. Jadi, tiap hari bawa passport deh. Tapi dengar-dengar sih, udah ada peraturan baru kalau mereka hanya tinggal menunjukin IC cardnya saja. Pemandangan seperti itu aku lihat. Mereka tinggal melenggang kangkung dan tak perlu dicop-cop segala (benar gak sih bahasanya spt itu).


Rencana kami akan menginap di daerah Bedok North Ave, tempat kawan Fathur semasa kuliah s-1 jadul. Kalau lihat di peta Singapura, Bedok itu berada di sebelah timur, hampir berdekatan dengan bandara Changgi juga. Hanya Changgi itu berada di ujung timurnya Singapura. Tahu gak apa maksud Bedok itu??? Ternyata bedug saudara-saudara... Masih mirip lah yah. He..he… Jhonny, kawan Fathur itu udah tinggal selama 3 tahun di Singapura sebagai karyawan di perusahaan elektronik terkenal. Tapi udah mau balik ke tanah air katanya.

Pangkalan bas konsortium itu berada di Golden Mile. Ternyata Jhonny udah nunggu kami di sekitar tempat itu. Dekat dgn Golden Mile itu terdapat rumah sakit Rafles, yg khabarnya paling bagus dan mahal di Singapura. Banyak org Indonesia (yg berduit tentunya) yang berobat ke sana. Dan yg sekarang lagi hot, yaitu operasi plastik, sedot lemak dll, yang banyak dilaukan oleh para artis Indonesia, dilakukan di rumah sakit itu. So kesimpulannya, penduduk Indonesia gak miskin2 amat kan????? He..he…Kami bertiga sarapan pagi di kantin rumah sakit itu. Benar aja, bahasa-bahasa Jakarte mulai kedengaran di kantin itu. “Eh loe di mana sih kemarin, gue telp kok gak nyahut”. Gitu lah kira-kira sepenggal percakapan di kantin itu. Jadi serasa di RSCM deh. Hi…hi….

Ada beberapa tempat menarik yg kami kunjungi di Singapura. Di antaranya Orchad road, kawasan Fullerton hotel, Merlion, Pulau Sentosa, Mustafa Centre, Singapore Science Center, China garden. Sebagai surga belanja (katanya), orchad road adalah tempat yang kudu didatangi oleh penggila fashion dan mode. Isunya lagi, hampir 60% pembeli di orchad road ini, siapa lagi kalau bukan orang Indonesia. Aku sih gak perlu masuk ke dalam mall-mall di sepanjang orchad road itu, cukup foto2 doang. He..he…dijamin gak akan tega membeli barang2 di tempat spt itu. Untungnya kami masih bisa menikmati makan siang di Lucky plaza (plazanya org Filipina). Menunya makanan Indonesia kabeh. Lah wong emang resto ayam penyet tempatnya. Jelas dong makanan khas dari mana…Cukup masuk akal harganya, walau tetap harganya 2-3 kali lipat harga dari Malaysia dan Indonesia.


Pulau Sentosa, aku tahu tempat ini dari baca-baca saja dulunya. Gak terpikir aku bisa menginjakkan kakiku di sana. Keindahan pantainya pasti kalah jauh dari pantai-pantai di Indonesia. Tapi karena dikelola dengan sangat baik dan sangat memberikan kemudahan bagi para turis, kekurangan itu dapat ditutupi. Bersih, lumayan indah, nyaman, dan mudah mendapat informasi ttg tempat itu, merupakan tipe-tipe marketing pariwisata Singapura dan Malaysia. Nah, kalau underwaternya sih emang kalah keren dan kurang beragam spt di Ancol-Jakarta. Kami mencoba cable car yang ada di pulau itu. Wah keren banget, kita bisa melihat pemandangan Singapura dari atas, walaupun tidak teralalu tinggi tapi cukuplah utk menikmati pemandangan yang menakjubkan. Perjalanan menggunakan cable car mengakhiri perjalanan kami di pulau Sentosa. Terima kasih ya Jhonny udah membawa kami ke sana.


Berkunjung ke Singapura tanpa ke Merlion pasti belum lengkap. Merlion adalah patung singa yg menjadi lambang (icon) Negara Singapura. Dulunya sih cuma lihat dari televisi doang. Eh, akhirnya bisa foto-foto di depan Merlion itu. Masih satu kawasan dengan Merlion itu, hotel Fullerton berdiri. Kami sempatkan utk berfoto-ria di sekitar hotel itu. Menurut Jhonny, tarif hotel tersebut 30 juta rupiah semalam. Astaga, itu hotel atau apa sih??? Itu hotel paling mahal di Singapura. Hotel Fullerton ini termasuk bangunan lama, peninggalan zaman British. Bangunannya mirip dengan bangunan lama Bank Indonesia menurutku. Mungkin bisa mahal begitu, sepertinya karena memiliki nilai sejarah yang tinggi dulunya. Bangunan hotel itu bisa dinikmati melalui foto berikut. Aku ambil dalam 2 versi sebenarnya, sebelum dan menjelang malam. Tapi nikmati yg sore, menjelang malam aja yah...



Kota (Negara) Singapura, memang keren banget. Gedung-gedung menjulang tinggi sudah sangat banyak. Beragam arsitektur bisa kita lihat di sana. Mungkin sebagian bisa dinikmati melalui foto2 di blog ini. Yang membuat aku takjub adalah moda angkutannya yg modern banget. Ada LRT dan MRT (subway) dan bus yang tertata dengan baik. Sangat nyaman,bersih dan aman. Ah kapan yah Jakarta bisa punya model transportasi seperti itu. Sistem pembayarannya sudah menggunakan magnetic card, di mana card tersebut bisa diisi ulang dan harganya masih sangat terjangkau oleh warga Singapura. Penggunaan card tentu memudahkan dan semakin menghemat waktu. Walau LRT dan MRT hanya melewati jalan-jalan utama, di mana kebanyakan stasiunnya berada di bawah tanah, tapi menurut Jhonny, hampir seluruh pelosok Singapura dapat dilalui oleh bus-bus yang tidak kalah keren. Sama seperti LRT dan MRT, pembayaran dilakukan dengan menggunakan magnetic card itu. Ez-link card namanya.


Kebanyakan warga Singapura tinggal di flat-flat atau apartment, disebabkan lahan yg sempit sementara penduduknya kian bertambah. Namun jangan dibayangkan flat sperti model rumah susun Jakarta yg kusam. Hampir semua flat yg ada terlihat bagus, rapi dan bersih. Bagi warga Singapura yang memiliki kenderaan diwajibkan untuk memiliki lahan parkir (yg mesti dibayar ke pemerintah). Belum lagi pajak kenderaan di Singapura juga sangat mahal. Sehingga banyak penduduk di sana yg memilih untuk menggunakan transportasi umum. Kononnya, peraturan spt itu dibuat untuk mengurangi jumlah kenderaan di Singapura. Di sini aku tampilkan gambaran flat di Singapura di sekitar kawasan Bedok North Ave.


Yang ada dalam pikiranku saat menikmati 3 hari perjalanan singkatku di Singapura adalah “ Seandainya aku bisa tinggal lama di Singapura, betapa beruntungnya aku”. Pengen…benar-benar langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Singapura. Ada yang mau nawari aku bekerja di Singapura??? He..he…

1 Comments:

Blogger Anik Budiarti said...

Nah..sekarang kan udah kerja di tetangganya singapura..he..he..

10:09 PM  

Post a Comment

<< Home