Saturday, July 08, 2006

"Bhineka Tunggal Ika" ala Malaysia

Pada kesempatan ini, aku ingin menceritakan kehidupan “berbhineka tunggal ika” di Malaysia berdasarkan pengamatanku yang relatif singkat (sekitar 3 tahun) melalui lingkungan sekitar (tentunya di kampus), koran, televisi dan dari sumber-sumber lain (termasuk dari hasil obrolan dan gosip, he..he…).

Malaysia, negera jiran kita, sudah semakin pesat dalam pembangunan dan mulai menuju kepada negara maju. Visi mereka pada tahun 2020, impian menjadi negara makmur dan maju diharapkan dapat tercapai. Jangan heran kalau Indonesia sudah tertinggal dalam banyak hal seperti infrastruktur (spt transportasi, bangunan), pendidikan, pertanian, perkebunan, olahraga, indeks korupsi, sumber daya manusia dll. Ah, trus Indonesia menang dari segi apa dong??? Tenang-tenang…Setidaknya Indonesia masih boleh berbangga kok. Sinetron, film dan musik Indonesia sangat digemari dan disukai ramai anak muda Malaysia. Dan menjadi barang impor yang dicari-cari di sini. He..he… Dan tentunya, para tenaga kerja kasar Indonesia masih lebih mendominasi dan disukai para majikan di Malaysia dibanding negara lainnya. Alasannya, kesamaan budaya dan sifat kerja keras yang dimiliki begitu kata orang Malaysia.

Malaysia, itu memiliki 13 negara bagian/state dan 3 wilayah persekutuan atau federal territory (Kuala Lumpur, Putrajaya dan Labuan). Memiliki 3 suku bangsa besar yaitu Melayu, China dan India plus suku-suku bangsa di Sabah/Sarawak seperti Iban, Dayak dll.

Uniknya, sebutan ketiga bangsa besar itu akan sering ditulis atau diperdengarkan di media massa. Jadi hal yang lumrah ketika pembawa acara (atau pengacara dalam bahasa Melayu) akan muncul di TV dan menyebutkan “Tiga orang bangsa bla..bla… ditangkap dalam serbuan pasukan polis dst…” Dan hal seperti itu biasa di Malaysia. Atau misalkan pejabat pemerintahan Malaysia, akan dengan lugas menyebutkan bahwa proyek pembangunan yang akan dilakukan ditujukan kepada suku bangsa tertentu dan kontraktornya diutamakan dari suku tertentu saja itu juga, dan anehnya suku bangsa lain sepertinya tidak akan protes atau ngedumel (setidaknya tidak terekspos ke luar lah).

Dan kebanggaan akan suku bangsanya juga menjadi seperti ajang kompetisi, baik di bidang ekonomi, pendidikan, olahraga dan teknologi. Misalkan, beberapa waktu yang lalu, seorang pelajar wanita dari suku bangsa bla..bla… mendapat 17As dalam ujian SPM (seperti ujian akhir buat lulusan setingkat SMU) dan mencetak rekor baru dari jumlah nilai A yang diperoleh, yang selama ini dipegang oleh suku bangsa tertentu sehingga menjadikannya bahan cerita dan headline news di beberapa surat kabar di Malaysia dan sudah tentu dalam TV juga. Dan baru-baru ini, seorang menteri dari suku bangsa bla..bla… menyatakan dengan tegas kalau suku bangsanya sudah jauh tertinggal dari dua suku bangsa lain, dan itu disebabkan karena generasi muda suku bangsa itu, suka ugal-ugalan, mabuk-mabuk dan sering menjadi samseng (baca: preman). Bukan mencari prestasi malah mempermalu suku bangsa sendiri. Dan itu disiarkan langsung kok di TV serta dimuat dalam akbar (surat kabar lokal Malaysia).

Apa yang menarik buat saya adalah, Malaysia menyadari betul keberagaman suku bangsanya, walau tidak sebanyak suku bangsa di tanah air, Indonesia. Dan mereka tidak membatasi ruang gerak dari setiap suku bangsa itu untuk berekspresi. Jadi jangan heran juga kalau surat kabar atau acara di televisi selain berbahasa Melayu atau Inggris, Anda akan melihat dan mendengarnya dalam bahasa Mandarin dan India. Dan uniknya, mereka tetap hidup rukun dan damai, walau mereka tahu mereka sangat berbeda. Dan sudah terbiasa hidup dibedakan dalam sehari-hari. Tetapi, anda tidak akan mendengar tempat ibadah agama tertentu dibakar atau dihancurkan. Atau kesenian dan adat istiadat kelompok tertentu dikekang dan dilarang tampil di depan umum. Acara-acara keagamaan dan budaya dari semua kelompok diperbolehkan. Dan saya, melihat justru di situ letak keberhasilan Malaysia dalam membangun negaranya juga. Perbedaan-perbedaan yang ada itu justru ditonjolkan sehingga merangsang masing-masing kelompok untuk berkompetisi dan berlomba dalam mengisi pembangunan di Malaysia. Jadi tidak berlebihan juga kalau Malaysia disebut sebagai Truly Asia.

Kalau di Indonesia, keberagaman kelompok dari suku, agama dan bahasa tentu lebih beraneka dibanding dengan Malaysia. Namun, saya melihat adanya keinginan untuk “memaksakan” keberagaman itu menjadi “satu”. Sehingga justru ada banyak konflik kelompok yang terjadi di tanah air. Jadi kelihatannya rasa berbhineka tunggal ika yang ditanamkan sejak kita lahir, hanya slogan kosong semata. Secara teori (berdasarkan Pancasila dan UUD 1945), kehidupan masyarakat di Indonesia dijamin bersama-sama tanpa ada perbedaan dari segi suku, agama dan ras, tetapi pada kenyataannya sangat berbeda jauh. Buktinya kita bisa lihat sendiri kok, kalau kelompok tertentu dapat memaksakan kehendaknya dengan semena-mena, dan Pemerintah kita hanya bisa melihat dan duduk manis menonton hal itu. Atau berita tentang pembakaran rumah ibadah di tanah air sudah biasa kok. Karena sudah terbiasa menjadi hal yang tidak perlu diselesaikan dengan tuntas. Dan anehnya itu seakan-akan disangkal dan tetap merasa kalau di Indonesia tidak terjadi apa-apa, akhirnya malah mengkambinghitamkan masalah kesenjangan ekonomi atau merupakan warisan kolonial Belanda lah penyebabnya.

Saya tentu sangat mendukung dan bangga dengan para pendiri Negara Indonesia yang mencetuskan ide Sumpah Pemuda. Dan oleh semangat itulah para pejuang tanah air dapat memperoleh kemerdekaan Indonesia. Tetapi di zaman saat ini, masa untuk mengisi pembangunan, saya usulkan kita tonjolkan aja perbedaan yang ada di bangsa kita. Diberitakan aja dengan jelas kalau suku bangsa tertentu misalnya hampir tidak ada kontribusi dalam pembangunan suatu bidang tertentu misalnya. Kualitas sumber daya manusia suku tertentu parah banget, wong, tamatan SD gak bisa baca. Atau suku bangsa tertentu kok kayaknya banyak yang korupsi deh. Apa gak malu dengan suku bangsa lain??? Tapi harus benar-benar dievaluasi dengan benar, bukan asal sebut saja. Terus dihitung deh benar-benar berapa orang dan kemudian dibuat statistiknya. Pas giliran, pencapaian prestasi di bidang olahraga juga disebutkan., misalkan dalam SEAGAMES yang akan datang, suku bangsa apa saja yang memperoleh emas, perak dan perungggu. Dibeberkan aja dengan terbuka. Sehingga akan timbul kompetisi yang sehat dari masing-masing suku bangsa. Siapa tahu dengan begitu, masing-masing kelompok akan menjaga kredibilitas kelompoknya masing-masing. Ini hanya sekedar saran yo…. Mudah-mudahan tidak menyinggung karena memang tidak ada maksud untuk itu. Cuman sekedar obrolan dan diskusi. Peace…

The Pearl of Orient


Pulau Pinang identik dengan jembatan Pulau Pinang-nya. Jembatan ini befungsi menghubungkan Pulau Pinang (PP) yang memiliki luas sekitar 285 km2 (bandingkan dengan kota Medan yang luasnya 265 km2) dengan Semenanjung Malaysia (SM). Secara administrasi Pulau Pinang State memiliki luas sekitar 1.030 km2, ini setelah ditambah dengan kawasan sekitar pesisir di SM yang dekat ke PP seperti Butterworth, Bukit Mertajam dan bahkan sampai ke Nibong Tebal.

Dengan panjang sekitar 13.5 km, jembatan PP mampu menjadi “icon” Negara bagian yang dijuluki sebagai “The Pearl of Orient” ini. Dengan diresmikannya jembatan ini oleh Dr Mahathir tahun 1985, jembatan ini menjadi jembatan terpanjang di Asia dan kelima terpanjang di dunia. PP merupakan Negara Bagian yang menurutku lebih maju dan berkembang di Malaysia. Secara geografis, berada di sebelah barat dari SM. Dengan penduduk sekitar 1,2 juta jiwa, PP dengan ibukotanya George Town, menjadi kota kedua terbesar dan terpadat di Malaysia setelah Kuala Lumpur tentunya.

Sebaran populasi penduduk PP menurut data tahun 1994:
Melayu sekitar 446.700 jiwa;
Bumiputera lainnya sekitar 1300 jiwa;
China sekitar 572.700 jiwa;
India sekitar 127.00 jiwa;
Lain-lain sekitar 6.200 jiwa.

Jembatan PP, aku pikir merupakan salah satu kebanggaan dari Negara Malysia. Jembatan ini merupakan megaproyek semasa kepemimpinan Mahathir di negeri jiran kita ini. Jembatan ini selalu ramai dipadati kendaraan dari berbagai wilayah di Malaysia, bahkan tidak sulit untuk menemui mobil dengan plat dari Thailand ataupun Singapore. Ini pertanda kalau PP memiliki daya tarik tersendiri yang manarik para pelancong dari berbagai kawasan. Kalau kita melihat gedung-gedung pencakar langitnya (spt nampak pada gambar di bawah dengan latar belakang gedung KOMTAR, gedung tertinggi di Penang), kita tentu akan bertanya dalam hati, ini kah Singaporenya Malaysia???

Ah, aku hanya berangan nih, kapan yak Indonesia punya jembatan sepanjang dan sebagus seperti jembatan PP ini. Setelah pembangunan jembatan SURAMADU, aku berharap akan dibangun pula, jembatan yang akan menghubungkan Jawa dan Sumatera. Semoga….aku akan melihatnya kelak.

Salam Kenal

Salam perkenalan bagi para blogers dari diriku, Indonesian yang lagi berada di negera jiran, Malaysia. Sebenarnya ‘dah lama ada niat untuk nge’blog, tapi apa daya niat hanya tinggal niat. He..he… Untung akhirnya niat itu kesampaian juga, walau di akhir2 masa aku berada di Malaysia. Sebenarnya bukan karena Malaysianya sih, cuman hampir 3 tahun di sini, akses internet dgn mudah sebenarnya dapat diperoleh. Apalagi gratis. Ya sudah nasi sudah menjadi bubur. Mau gak mau, buburnya terpaksa dimakan deh...

Untuk lebih jelasnya ttg diriku, lihat aja profileku yah...